Tentang Sesuatu yang Sering ku Lihat

Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Depok.
Jalan yang tak lain tak bukan, selalu ku lintasi tiap harinya. Bahkan lubang-lubang dijalan tersebut pun ku sudah hapal.

Malam itu, seperti biasa ku lewati. Ramai kendaraan lalu lalang. 
Tiba-tiba mata ini melihat sesosok perempuan berjilbab dengan kedua kaki diperban sambil membawa karung di pundaknya. Cara jalannya tertatih tatih. Sepertinya ia hendak pulang kerumahnya, sebab hari sudah sangat amat malam.

Setelah itu, saya semakin sering melihat ibu tersebut di jalanan Kelapa Dua. Mungkin kalian yang sering melewati jalur ini juga sering melihat wanita tersebut. Sempat suatu pagi, saya sudah berada di Jalan Raya Bogor sekitar pukul setengah tujuh pagi. Dan saya melihat ibu tersebut jalan ke arah Kelapa Dua.

Semakin lama saya semakin iba melihat ibu tersebut. Setiap malam, ketika saya melihat ibu tersebut berjalan, saya selalu merasa salut dengan ibu tersebut. Sebab menurut saya, beliau orang yang tidak pantang menyerah. Saya selalu respect dengan orang yang dalam keadaan sulit mereka tetap berusaha untuk bekerja. Bukan malah menjadi seorang pengemis. Bahkan pekerjaan menjadi "pemulung" jauh lebih mulia, daripada menjadi seorang pengemis yang hanya bisa pasang tangan.



Malam itu berbeda dari malam sebelum-sebelumnya. Saya tak lagi melihat si ibu di sepanjang jalan saya pulang. Awalnya juga saya tidak begitu peka dengan tidak adanya si ibu di sepanjang jalan. Tetapi setelah beberapa hari saya tidak melihat dia, saya jadi penasaran. Kemana kah si ibu tersebut? 

Rasa penasaran saya terus datang ketika dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, saya tidak melihatnya kembali. Sampai suatu saat saya ingin sekali bertemu dengan ibu tersebut untuk berbagi sedikit rezeki yang saya punya kepadanya. Tapi saya pun tak kunjung bertemu ibu tersebut setiap perjalanan pulang.

Sampai ada satu titik saya menyesali perbuatan saya. Mengapa saya baru peduli dengannya ketika dia sudah tidak pernah saya temui lagi? Kenapa saya tidak berpikir dari sebelum-sebelumya, ketika saya masih sering bertemu dengannya? Akhh otak saya mulai berperang. Saya kecewa dengan diri saya yang sempat "abai" kepada ibu tersebut. Kenapa saya bisa tidak sepeka itu??!

Lalu hari Rabu kemarin saya pulang sedikit lebih malam dari biasanya. Saya menusuri jalan Kelapa Dua seperti biasanya. Tetap, saya tidak melihat ibu tesebut. Ketika sudah berada di Jalan Raya Bogor, tak sengaja saya melewati ibu tersebut. Iya!! Ibu yang biasanya saya lihat di Kelapa Dua. Saya melihat ibu tersebut sekitar pukul setengah sebelas. Saya sadar beberapa saat setelah melewati beberapa meter di depan ibu tersebut. Saya menepikan motor saya, berpikir sejenak.

Sempat ada keraguan untuk menemui ibu itu. Tetapi batin saya berkata, kapan lagi saya bertemu ibu tersebut. Dengan bismillah saya nyalakan kunci motor saya. Saya tancap gas, putar balik kearah jalan sebelumnya. Sepanjang jalan saya berdoa, semoga apa yang saya lakukan ini benar dan bisa menjadi berkah.

Saya menyusuri kembali jalanan yang sebelumnya saya lewati. Saya perlambat kecepatan motor saya. Saya lihat dengan teliti bagian tepi jalan. DAN... Ibu tersebut tidak ada.... Ya Allah... Mau nangis saya rasanya. Kemana ibu tersebut pergi? Apa kali ini saya terlambat (lagi) untuk menemuinya? :'(((

Lalu saya coba untuk menyusuri jalan tersebut kembali, saya coba menuju jalanan yang memang bukan arah rumah saya. Dan dari kejauhan saya melihat, perempuan membawa karung berjalan dengan menyeret kakinya. SUBHANALLAH AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN IBU TERSEBUT!!

Saya langsung memarkirkan motor saya, dan menghampiri ibu tersebut. Saya bersalaman dengan ibu tersebut dengan mata berkaca kaca. Bahagianya saya bisa bertemu ibu tersebut. Tak banyak percakapan yang tercipta, intinya ibu tersebut berterima kasih dan mendoakan saya. Alhamdulillah semoga ibu tersebut pun senang. Saya lihat betul senyumannya. Saya pun balas senyuman kepadanya :)

Lalu saya kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan, tak henti rasa syukur saya ucapkan. Bersyukur bisa dipertemukan dengan ibu tersebut. Bersyukur dengan keadaan saya saat ini. Bersyukur masih banyak orang yang menginspirasi saya untuk selalu kerja keras. Terima kasih ibu berperban:) 

Dari kejadian ini saya banyak belajar, salah satunya tentang kepedulian, kesempatan, dan kerja keras. Saya rasa saya memang harus lebih peka dan peduli dalam melihat lingkungan yang ada. Bahkan ketika kita sudah peduli, kita juga tidak boleh membuang buang kesempatan. Iya, percuma dong peduli kalo terlambat. Iya kan? Jadi cobalah untuk peduli dengan kesempatan yang kamu punya. Jangan kelamaan, ntar nyesel kaya saya:p
Terakhir, kerja keras. Bersyukur masih dikasih nikmat sehat. Bersyukur bisa ada di posisi saat ini. Jangan sampai mengasihani diri sendiri karena perbuatan diri sendiri pula. SEMANGAT!! Malu ah kalo males, ibu itu aja semangat :D

Dan sekali lagi, jadilah seseorang yang bermanfaat. Sekecil apapun yang kamu lakukan, kalau itu bermanfaat, Kenapa tidak dilakukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rela Bolos Demi Kalian

Kesehatan Untuk Saudaraku di Papua

Menjadi Pengajar Insan Cerdas di Tengah Kesibukan Kuliah