Postingan

Menjadi Pengajar Insan Cerdas di Tengah Kesibukan Kuliah

Sekitar satu tahun yang lalu saya bertemu dengan kawan SMA saya. Kebetulan saat ini kami berdua sama-sama berkuliah di Universitas Indonesia. Kami sharing mengenai kesibukan masing-masing. Dia menceritakan saat ini ia memiliki kesibukan bekerja. Saya bertanya, “loh kok bisa kerja sambil kuliah?”. Dia bilang, dia bekerja menjadi pengajar di Insan Cerdas . Saya bertanya, apa itu Insan Cerdas . Dia menjelaskan, Insan Cerdas merupakan lembaga les private yang banyak pengajarnya merupakan mahasiswa UI. Wah saya baru tahu ternyata banyak teman-teman saya yang bekerja sambil kuliah seperti kawan saya ini. Kalau dilihat-lihat sangat lumayan untuk menambah pengalaman dan tambah-tambah uang jajan. Saya bertanya lebih lanjut kepada kawan saya mengenai Insan Cerdas . Bagaimana jam kerjanya? Dia menjelaskan tentang waktu mengajar sangat bisa disesuaikan dengan kesibukan kita dikampus. Sebagai anak UI tugas kuliahnya yang segunung, biasanya kita juga ada kesibukan seperti organisasi. Nah Ins...

Anggota Baru, Jadi Makin Sayang

12 Agustus lalu, Ada satu makhluk yang menambah keanggotaan keluarga kami, yaitu Zidan. Dia itu anak dari Kakak Saya. Yang lucunya dia lahir ketika saya sedang tidak di rumah. Waktu itu saya ada kegiatan sosial dari kampus, yaitu FKM UI Peduli di Cianjur. Disana susah bangett sinyal. Sekalinya saya dapat sinyal, saya dapat pesan berisi "Nes, Mba Dian udah lahrian. Anaknya cowo" kata ibu saya. Hmm ingin pulang rasanya di saat itu. Tapi apa daya, kewajiban masih harus diselesaikan disini. Beberapa hari setelah itu, saya pulang. Dan ada seorang bayi kecil dirumah saya. Semenjak hari itu, rumah saya semakin ramai. Dari adik saya yang masih kecil ditambah ada bayi ini. Hahaha. Tapi tak apa, itu memang merindukan ketika saya sedang jauh dirumah. Walaupun terkadang saya suka merasa terganggu, kalau tugas sedang banyak-banyaknya. Disini saya melihat bayi ini adalah bayi yang sangat kami tunggu-tunggu. Ayah saya yang sangat menginginkan anak laki-laki, akhirnya sekarang diberik...

Kelinci atau Domba yang Sebentar ku Temui

Suatu hari, ketika ku berjalan di tengah hutan. Tak sengaja sepintas ada seekor kelinci melintas di belakangku. Ia berlari seolah memancingku untuk mengejar. Aku pun secara tidak sadar mengikuti perginya kelinci tersebut. Sampai ada satu titik ku berhenti mengikutinya. Kelinci tersebut pun memperlambat lompatannya, lalu berhenti sambil menoleh ke belakang. Ia seperti memastikan, apakah aku masih mengejarnya atau tidak. Aku pun diam sambil menatap kelinci tersebut. Kelinci tersebut masih diam dan berhenti melompat. Di saat itu, ku mulai memperhatikan tubuh kelinci tersebut. Bulunya abu bersih, dan telinganya sangat menggemaskan. Tapi yang aneh. Ketika kita sama sama sedang diam, justru dari kami berdua tidak ada yang berlari. Ntah si kelinci yang lompat melarikan diri, maupun aku yang berusaha menangkapnya. Cukup lama kami berhenti, seakan saling menunggu. Sampai pada akhirnya, akupun mengurungkan niat ku untuk menangkap kelinci tersebut. Aku berbalik arah. Tak lagi mempedulikan k...

Sunyiku dan Kesendirian

Suatu hari ku memberanikan diri memulai semuanya untuk sendiri. Percaya atau tidak, sendiri itu menenangkan. Menenangkan diri kita yang telah lelah dengan kesibukan di sekeliling. Aku sendiri sering sekali menyendiri hanya untuk sekedar mengistirahatkan pikiranku, mencari inspirasi, atau sekedar merenung.  Pernah suatu waktu ku sedang berada di keadaan penat-penatnya. Ku pergi ke coffee shop yang ada di daerah Depok. Lalu ku memesan secangkir black coffee. Dan percaya lah, kepahitan black coffee selalu memiliki ketenangan di setiap seruputannya. Makanya ketika sedang penat-penatnya, ku selalu mengkonsumsi minuman ini. Coba deh kamu coba untuk datang ke coffee shop sendirian. Tanpa mengenali dan mempedulikan orang-orang disekelilingmu, sambil menikmati minuman di depan kamu. Itu indahnya dari kesendirian menurutku.  Kadang black coffee juga sering menemani ku dikala setumpuk tugas melanda.  Satu kotak black coffee instan sering menjadi teman setia ku k...

Ambil Peminatan Apa Yaa...

Tahun ini saya menginjakan semester ke empat di dunia perkuliahan. Sudah setengah perjalanan dilalui lika liku kehidupan kampus. Jadi ingin membagikan cerita tentang kebingungan mahasiswa FKM UI yang akan menginjak semester lima. Hahaha, Yap! Peminatan. Kilas balik sedikit Jadi dulu waktu SMA saya pernah tes psikologi minat bakat. Ini tes yang cukup puanjanggg bangett dari tes yang biasanya, seriusan ga boong. Jadi ini tes yang bakal ngeliat kita emang punya kecenderungan minat dan bakat di bidang apa. Saat pengumuman hasil, ternyata hasilnya tak di duga duga. Ada peringkat kecenderungan diri saya, yaitu pada bidang ekonomi, komunikasi, dan psikologi. Sepertinya saat SMA saya salah ambil jurusan IPA. Karena saya memang lebih menyukai hal yang cenderung di dunia sosial. Hasil tes tersebut memang tidak bisa dipungkiri, saya memang bukan tipe orang yang menyukai sains banget. Fix lah saya salah jurusan pas SMA hahaha. Karena telah melakukan kesalahan di waktu SMA, saya ga mau do...

Aku Memilih, Menambah Sayapku

Di akhir tahun 2017 lalu, ada seorang teman bertanya kepadaku "Tahun depan, lo mau ngapain? Masih di lingkaran dunia sosial?" Diam sejenak, lalu berpikir untuk menjawab. "Hmm... Ngapain ya gue tahun depan..." Ia bicara kembali, "Udah ngelebarin sayap lu aja yang udah ada. Balik ke di dunia sosial. Kan lo suka tuh yang sosial-sosial gitu". Lalu ku menjawab, "Kayanya gue mau nambah sayap yang udah gue punya".  Kurang lebih itu adalah percakapan ku dengan seorang teman, yang membuat ku ada di titik ini.  Sudah hampir setengah tahun ku melewati hari-hari di tahun ini. Yap, banyak perubahan yang ku lakukan karena ucapan ku waktu itu. Di tahun ini ku banyak mencoba hal-hal yang sebelumnya, belum pernah ku coba. Melihat diriku di tahun-tahun sebelumnya. Waktu SMP sampai SMA selalu ada di lingkaran dunia "kebendaharaan". Iya dari dulu aku selalu diamanahkan menjadi seorang bendahara, dari bendahara kelas sampai bendahara OSIS, ...

Asal Mula Terbentuknya BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)

Sejarah asuransi kesehatan di Indonesia telah ada sejak pemerintahan Belanda. Dalam Staatsregeling No. 1 /1934 disebutkan bahwa program pemeliharaan kesehatan hanya untuk pegawai pemerintahan Belanda. Ini merupakan asal mula, dimana adanya jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Dalam sila ke-5 Pancasila disebutkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” hal inilah yang melatarbelakangi mengapa perlu adanya jaminan kesehatan secara merata di Indonesia. Maka dari itu pada awal kemerdekaan, dibuatlah peraturan yang menjamin para Pegawai Negeri atas jaminan kesehatan. Menteri Kesehatan Indonesia, Prof. G. A. Siwabessy mencetuskan konsep asuransi kesehatan untuk pertama kalinya. Ia mengajukan suatu proposal terkait asuransi kesehatan kepada Presiden Soeharto, sehingga pada 1968 disetujuilah sebuah program kesehatan nasional tersebut. Pada tahun 1968, dengan adanya surat keputusan presiden dibentuklah Lembaga BPDPK (Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan) seb...